Radisty

Radisty

Minggu, 18 April 2010

TOKOH DIBALIK KESUKSESAN ANAK

Ketika saya putus asa menghadapi masalah belajar anak di rumah, nilai- nilai ulangan menurun drastis. Sementara saya sebagai orangtua hanya bisa menugaskan belajar- belajar- balajar. Saya bingung harus bagaimana. Langkah apa yang harus saya ambil untuk menyelamatkan anak saya.

Sebagai seorang guru Sekolah Dasar, saya tenggelam dalam kesibukan pekerjaan di sekolah dan di rumah. Pekerjaan menumpuk patut disyukuri tapi apa daya tenaga terkuras habis, yang tersisa adalah kelelahan.

Sementara itu kesadaran anak terhadap itu sendiri belum ada. Saya perhatikan niat belajar belum terbit, konsentrasi belajar sering goyah. Saya sering tekankan padanya agar belajar tanpa diminta , jika belum mengerti cobalah bertanya kembali kepada guru atau orangtua.Saya yakin banyak orangtua bernasib sama seperti saya.

Memang kalau diperhatikan setiap pagi hendak berangkat ke sekolah selalu terjadi tarik urat untuk membangunkan , susah mandi, cepat- cepat sarapan agar tidak terlambat ke sekolah. Terasa berat sekali melangkahkan kaki ke sekolah. Kadang- kadang terlambat, tidak mengerjakan tugas dan malas belajar. Ini berarti anak kurang memiliki semangat belajar.Jenuh terhadap kegiatan padat sepanjang hari yang dilaluinya sehingga kehilangan motivasi.

Salah satu bahaya terbesar bagi anak-anak adalah asumsi bahwa anak akan selalu punya motivasi. Jika mereka diberi sesuatu untuk dikerjakannya. Yang benar adalah anak yang tidak diajari dengan baik akan kehilangan motivasi.Anak- anak yang punya motivasi , apa pun kemampuan mereka, akan menjadi frustrasi jika mereka tidak diajar dengan baik. Anak- anak yang frustrasi akan menolak apapun yang membuat mereka merasa frustrasi. Jika anak-anak memandang pendidikan sebagai hal yang membuat frustrasi, mereka akan menolaknya. Sebaliknya, jika anak- anak memandang pendidikan sebagai hal yang membebaskan dan melibatkan, mereka akan menjadikan pendidikan itu sebagai milik mereka sendiri.

Nah siapa yang bertugas mengajar dengan baik untuk mereka ? Tidak lain orangtua di rumah dan di sekolah.

Orangtua berperan penting dalam mendidik anak di rumah. Anak menghabiskan waktu kira- kira 6 jam di sekolah setiap harinya, selebihnya di lingkungan rumah. Sejauh mana orangtua menyikapinya ? Ada yang beranggapan gurulah yang harus banyak berperan dalam mendidik anaknya sebab guru yang sering bertemu anak dari pagi sampai siang hari sedangkan orangtua hanya pada pagi hari sebelum mereka berangkat ke sekolah. Pada malam hari kadang tidak ada kesempatan , mereka pulang dari kantor malam hari dan anak- anak sudah tidur lelap.

Peran guru sebagai orangtua anak di sekolah memang diperlukan . Guru harus memiliki kemampuan memotivasi belajar anak. Selain itu harus memiliki sikap empati, terbuka , keasliannya, kekonkretan dan kehangatan.

Sikap empati merujuk kepada sikap guru yang mau memposisikan dirinya kepada kerangka berpikir anak sehingga guru dapat merasakan apa yang anak rasakan dan alami.Keterbukaan merujuk pada kemampuan guru untuk membuka diri, siap dikritik, siap diberi masukan, siap dinilai dan siap diberi pujian. Keaslian merujuk kepada penampilan apa adanya dan tidak dibuat- buat. Kekonkretan merujuk pada kejelasan dalam menyatakan sesuatu, memberikan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan anak dan realistis. Kehangatan merujuk kepada jalinan komunikasi yang secara psikologis terasa nyaman dan aman bagi peserta didik disertai ketulusan dalam memberikan pelayanan pendidikan.

Sebaik apapun peran guru di sekolah, tidaklah ada artinya bila dibandingkan dengan peran orangtua anak di rumah. Sebab dari sinilah anak berasal dan berkembang. Peran orangtua tidak tergantikan oleh siapa pun. Orangtua lebih mengenal watak anaknya dan lebih peduli.

Anak anak perlu terus mendapat informasi. Mereka perlu diberi penyaluran, mereka perlu dapat mengekspresikan semua perasaan yang mereka miliki. Mereka perlu dapat menyatakan bahwa mereka berpikiran sesuatu harus dilakukan dengan cara berbeda. Mereka perlu tahu situasi- situasi yang diluar kontrol mereka dan dibantu untuk memahami bagaimana merasa efektif ketika mereka merasa tak berdaya.

Anak-anak yang dibiarkan tidak memiliki cara berkomunikasi dapat menjadi rentan. Kerentanan ini mungkin muncul dalam berbagai cara. Anak-anak mungkin menjadi pasif atau mundur untuk bisa bertahan, atau mereka mungkin menjadi agresif atau depresi karena mereka tidak punya cara lain untuk mengekspresikan efek perubahan yang mereka alami.

Beri mereka kerangka kerja, kosakata, pengetahuan dan ijin untuk berbicara tentang apa yang sedang terjadi pada mereka,maka perkembangan mereka ada ditangan mereka sendiri. Berkat bantuan anda sebagai orangtua tidak ada kata terlambat, mulailah saat ini juga melungakan waktu, perhatian dan tenaga anda untuk buah hati anda.

( Maria Imelda Wileri, Guru SD Maria Fransiska, Bekasi )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar